Mengenal Kuliner Toraja

1654068suku-toraja780x390

Masyarakat Toraja, yang tinggal terisolasi
dari daerah Sulawesi lainnya disebabkan
topografi daerahnya, tetap memegang teguh
budaya yang dikenal dengan Aluk To
Dolo —Jalan Leluhur—yang menghormati
garis keturunan ayah dan ibu, namun dalam
menentukan tingkatan keluarga didasarkan
pada garis keturunan ibu.

Di pasar Kota Rantepao, Anda dapat melihat
betapa kuatnya akar budaya di daerah, baik
dalam perdagangan daging, penempaan
baja, maupun penjualan hasil-hasil bumi
setempat. Jenisnya memang tak terlalu
variatif, namun berkualitas dan segar karena
baru saja selesai dipanen. Kios-kios di pasar
ini menawarkan daun tembakau berwarna
kecokelatan, daun sirih yang masih hijau
segar, bawang putih yang putih bersih,
serta kunyit dan jahe. Di pasar ini, ternak
diperdagangkan hidup-hidup; tidak dilelang,
namun tawar-menawar terus bergulir seiring
berpindahnya sejumlah besar uang dari satu
tangan ke tangan lain. Para “koboi” berbusana
perlente lengkap, kemeja kotak-kotak,
kacamata hitam, serta topi koboi, berjualbeli,
dan bercanda mulai dari subuh hingga
usainya perdagangan menjelang tengah hari.
Saya berjalan-jalan ke Toraja bersama seluruh
anggota keluarga. Sambutan hangat dan
Kare kambing, a spicy lamb curry,
with similar variants of this dish
found across western Indonesia.
Another version of pa’piong,
made from pork.

“A Torajan man prepares to sacrifice a
bull for a traditional funeral ceremony”

toraja

penuh kekeluargaan membuat kami
merasa nyaman. Kami pun mencicipi
makanan di kedai-kedai lokal serta
menghadiri acara jamuan makan di rumah
sahabat. Hal semacam itu membuat kami
mengenal lebih dekat tradisi Toraja ini.
Makanan Toraja benar-benar sangat segar,
tak peduli bagaimana masyarakat Barat
mempercanggih cara mereka bercocok tanam
dan mempercantik tampilan hidangan, tak
ada yang dapat menandingi kuatnya karakter
rasa daging segar yang dimasak, atau
kelembutan dan kelezatan pa’piong—daging
babi guling—yang disajikan langsung ke
atas piring Anda dari bilah bambu yang
dipanggang di atas arang cukup lama,
dan dibumbui hanya dengan bawang putih,
garam, dan merica. Pa’piong ini dihidangkan
bersama sambal pedas, kangkung serta nasi.
Di sebuah warung, kami menikmati pa’piong
burak manuk yang lembut, daging ayam
kampung besar yang direbus dalam bilah
bambu, lalu dimasak bersama batang pisang
dan kelapa. Ikan air tawar juga kerap kali
dinikmati untuk menu makan siang.
Masakan berkuah ikan pamarrasan, misalnya,
diolah menggunakan keluak (bumbu yang
berasal dari buah besar beracun, namun
dapat dimakan setelah melewati proses
fermentasi), serai, asam, dan pare.

toraja

Masakan ini memiliki versi lain yang sama
lezatnya namun dibuat dari iga babi, seperti yang
ditawarkan di sejumlah warung. Warung Pong
Buri’ di Jalan Emmy Saela adalah salah satunya.
Warung ini juga terkenal dengan hidangan pantollo
lendong-nya, yakni masakan daging belut yang
dapat dinikmati bersama makanan apa pun.
Daun pakis muda yang disangrai bersama
parutan kelapa dan kemiri adalah menu tambahan
yang paling digemari. Daun pakis muda dan pare
dianggap penting karena kedua jenis sayuran
tersebut membantu sistem pencernaan untuk
mengurai daging. Di situlah terbukti betapa
budaya kuliner Toraja yang “sederhana” ini
sesungguhnya sangat canggih.

toraja

Para pecandu kafein akan menemukan
surga mereka di Toraja. Kopi Sulawesi memiliki
rasa yang ringan, kering tapi tajam dibandingkan
kopi asal Indonesia lainnya. Dengan metode
pengolahan yang semakin maju, rasa alami
biji kopi Toraja benar-benar menonjol,
namun tak meninggalkan ciri khas kopi Sulawesi
yang beraroma tanah (earthy). Kopi Toraja ini
serupa sirup maple namun ringan, dengan
sensasi yang tajam di ujung lidah, dan sedikit
rasa cokelat serta agak berminyak. Saya tak
dapat membayangkan ada minuman
yang lebih sempurna untuk dinikmati di
dataran tinggi yang mengesankan ini.
Secara harfiah berarti ‘tinggi di awan’,
Burros memiliki panorama yang membentang
hingga ke lembah sungai. Tampak dari atas,
petak-petak sawah dan ladang dengan kerbaukerbau
yang sedang merumput, gubuk-gubuk
kecil milik petani, serta gundukan bebatuan
dan monumen-monumen batu yang terbentang
dari timur hingga barat. Sementara di latarnya,
kawanan elang membentangkan sayapnya
di atas tebing-tebing yang menjulang tinggi.
Kontur bumi Toraja mendukung kepercayaan
yang diyakini di tanah ini.

Orang Toraja berbicara dengan kebijaksanaan
dan lemah lembut, hidup dengan mencukupkan
apa yang ada. Dan seperti yang saya lihat, mereka
adalah tipe masyarakat yang setia pada tradisi
budaya mereka, dengan berkebun dan melakukan
pemakaman sebagai bentuk tanggung jawab
dan ritual. Walaupun perjalanan menuju tempat
yang menakjubkan ini sangatlah panjang,
rasa lelah selama perjalanan akan terbayarkan
oleh pengalaman yang sangat berharga dan
akan Anda ingat dalam waktu lama; bukan hanya
karena rasa masakan tradisional dan aroma kopi
mereka, melainkan lebih karena falsafah yang
mendasari masyarakat Toraja serta cara hidup,
makan, dan minum mereka.

sok hayang naon :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s